Sunday, January 2, 2011

Erti Kebahagiaan....

by Abu Hanifah on Tuesday, December 28, 2010 at 11:42pm

Jika ditanya, semua orang ingin hidup bahagia. Namun malangnya tidak semua bahkan terlalu sedikit yang mengecapi erti kebahagiaan yang sebenar. Kenapa?

Ya, tidak semua manusia benar-benar memahami, apa yang dimaksudkan dengan kebahagiaan. Dan tidak semua yang mengetahui erti kebahagiaan itu tahu pula jalan untuk meraihnya.

Ada yang menyangka kebahagiaan itu terletak pada harta kekayaan lalu seluruh masanya dikorbankan untuk mengumpul sebanyak mungkin harta. Suami isteri turun ke medan perniagaan dan kerjaya hingga anak-anak dibiarkan kesunyian dan hidup kekosongan. Tidak ada masa yang diperuntukkan untuk bersama-sama mereka apatah lagi untuk bergurau senda dan berkasih mesra. Senyuman bukan lagi untuk anak-anak tetapi hanya untuk rakan perniagaan dan pelanggan. Jika ditanya kenapa semua itu berlaku maka jawapannya “Demi untuk kebahagiaan keluarga tercinta”.

Ya. demi kebahagiaan keluarga tercinta anak-anak ditingalkan di villa mewah dengan segala kemudahan dan kemewahan. Namun malangnya, anak-anak melihat mahligai itu umpama penjara jiwa yang penuh dengan kesunyian dan kekecewaan. Anak-anaknya lalu keluar menerokai malam lalu terdampar di kelab-kelab yang menawarkan keseronokan sementara untuk melupakan pedih dan sunyinya kehidupan. Mereka meneguk minuman yang mematikan jiwa agar jiwa tidak lagi terasa pedih melihat kehidupan atau kecewa merenung masa depan. Segalanya ingin dilupakan dan segala keperitan terpaksa ditelan lalu ditanya padanya, apa semua ini? Katanya “Ingin mencari kebahagiaan”.

Jadi dimanakah letaknya kebahagiaan? Bagaimana cara untuk menggapainya?

Sahabat-sahabat Rasulullah SAW adalah antara manusia yang diuji dengan ujian yang luar biasa. Ada yang diletakkan besi panas pada dadanya hingga mengeluarkan lemak dan lemak itu lalu memadamkan bara api. Khubaib Ibnu Adi RA di kerat anggota badannya satu persatu hingga menemui kematian. Mus’ab bin Umair hidup dalam serba kekurangan, sehari makan sehari berlapar dan berbagai bentuk kepayahan dan penderitaan yang mereka lalui. Ya, dari sudut fizikalnya mereka menderita dan hidup dalam kesempitan tetapi apa yang ada dijiwa mereka? Ketenangan, kepasrahan, lapang dada dan kepuasan dengan kehidupan dan pengorbanan.

Kita memiliki segala kemewahan dan kesenangan tetapi apa yang ada dihati kita? Keraguan, kegelisahan, keluh kesah, kekecewaan dan segala racun yang mematikan hati. Kenapa? Ya, mereka memilki iman; iman yang menghidupkan jiwa, iman yang melahirkan kekuatan dan ketahanan jiwa yang luar biasa. Iman mereka melahirkan keyakinan kepada segala janji-janji dan ancaman-ancaman Allah SWT, Iman mereka membangunkan keyakinan kepada bantuan dan pertolongan Allah, Iman mereka menjadikan mereka bangga menjadi Mukmin dan menjadikan mereka hidup dengan kemuliaan dan mengorbankan segalanya untuk manusia bersama-sama mengecapi kebahagiaan yang mereka rasai. Mereka tabah mengharungi segala kepayahan dan tersenyum menghadapi kematian. Ya, mereka memiliki segalanya yang disebut KEBAHAGIAAN.

~ E . N . D ~

Jiwa Resah

by Abu Hanifah on Tuesday, December 28, 2010 at 11:55pm

Jiwa saya resah! Ya, sekarang ini jiwa saya terasa resah dan saya tidak tahu darimana keresahan itu datang.

Pernahkah anda merasakan perkara yang sama. Mari kita hayati keresahan yang menguasai jiwa kita. Mari kita menyelami lubuk jiwa kita. Pejamkan mata dan bayangkan kita berada di satu dasar yang gelap. Cuba kita tanyakan pada diri kita, dari manakah datangnya keresahan itu? Bukankah keresahan itu menguasai diri kita setelah KEYAKINAN kita digugahkan oleh KERAGUAN yang tiba-tiba menerpa.

Ya, di dasar jiwa kita ada satu pohon yang tumbang. Akarnya sudah reput dimakan usia seolah-olah telah lama tidak dibajai. Tanah disekitarnya kering kontang seolah-olah telah lama tidak disirami. tidak hairanlah pohon itu yang biasanya menjadi teduhan jiwa kita tumbang dan tersungkur ke bumi. Kita memandang keatas, kita tidak temui sumber cahaya yang menjadi sumber kehidupan. Pohon KEYAKINAN itu telah lama tumbang tetapi kita baru saja menyedarinya setelah kesibukan menjadikan mata hati kita tertutup lena.

Ketika tanah-tanah mula gersang dan tandus, lalang-lalang keraguan mula tumbuh dan menyerap saki baki baja yang pernah kita taburi dulu. Kekeringan menjadikan pohon KEYAKINAN kita layu dan hilang kesegarannya. Dari mana datangnya KERAGUAN itu? Ya, KERAGUAN itu tumbuh kerana KEGERSANGAN hati kita.

Hati kita KEGERSANGAN ilmu yang sepatutnya menjadi hujah-hujah yang membekalkan baja kepada KEYAKINAN kita terhadap Allah SWT. Sehingga kita tidak lagi merasai pemerhatianNya, meyakini KekuasaanNya yang mengatasi segala-galanya Juga tidak meayakini hari pertemuan denganNya.

Hati kita menjadi GERSANG kerana ibadah kita telah kehilangan ruh sehingga tinggal amalan rutin yang kita lakukan sambil lewa bahkan kita rasakannya ia sering mengendalakan waktu kita. sebahagian masa terpaksa kita peruntukkan padanya sedangkan kita terlalu sibuk.

Ya, kita memang sibuk dan kini KESIBUKAN itu telah merantai jiwa kita hingga kita hilang kemerdekaan yang selama ini kita miliki.

~ E . N . D ~

Wanita Sebaik-baik Ciptaan-Nya

“Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.”

“Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya.”


“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”


“Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”


“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.”


“Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahawa seorang suami yang baik takkan pernah sakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.”


“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan.”


“Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya. Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya,kerana itulah hatinya,tempat dimana cinta itu ada.”

Saturday, January 1, 2011

Wanita Pilihan Allah

by Abu Hanifah on Saturday, January 1, 2011 at 5:56pm

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, iaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Yang Lima). Dan dalam sabdanya yang lain;“Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baiknya kesenangan dunia adalah wanita (isteri) yang solehah.”. (Muslim, an-nasa’i)

Banyak sekali ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan kaum wanita, agar mereka dapat menjadi wanita pilihan Allah, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia.

Tentunya, dengan tulisan yang ringkas ini tidaklah mungkin kita hadirkan kajian ayat dan hadits yang sangat banyak sekali jumlahnya ..., tetapi dengan sangat mudah kaum wanita dapat bercermin melalui ciri-ciri akhlak mereka..



Beberapa ciri yang umum dari akhlak wanita pilihan Allah adalah ;

Sebelum menikah, wanita solehah akan selalu menjaga dirinya, ia tidak akan membuka satu hubungan khusus, kecuali jika ia mengetahui bahwa lelaki tersebut hendak meminang dirinya. Aqidah islam, kefahaman dan akhlaq calon suami, merupakan modal dasar dari kriterianya. Wanita solehah tidak akan memperlihatkan auratnya pada kaum lelaki yang dilarang oleh syariat , dirinya tidak akan pula membiarkan bahagian tubuhnya disentuh, walau hanya berjabat tangan oleh lelaki yang bukan muhrimnya dan yang tidak memiliki kepentingan.

Dalam proses perkenalan atau ta’aruf ia tidak akan membiarkan dirinya berdua-duaan dengan kaum lelaki. Menjawab salam, tidak berbicara kecuali hal yang mengarah pada kebaikan. Tidak menjatuhkan kehormatan dan martabatnya dengan memberikan peluang kepada kaum lelaki untuk mempermainkan dirinya. Tidak meminta harta mahupun barang apapun selain kesungguhan calon suami untuk mempercepat proses akad nikah.

Dan..pada saat menikah dan setelahnya, ciri wanita sholehah tercermin dari akhlaq mereka ;

Menerima mahar sesuai dengan kesanggupan calon suaminya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“Wanita yang paling banyak berkahnya adalah mereka yang paling mudah maharnya”. (Ahmad dan Baihaqi).

Sentiasa taat dan melayani suami mereka selama perintah mereka tidak bertentangan dengan perintah agama. Mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan dirinya. Dapat menjadi pendengar yang baik, lemah lembut dalam berbicara, menghibur, mendorong hati suami ketika dalam kesulitan dan kesedihan, memberikan ketenangan dalam rumah tangga, dan senantiasa memperhatikan penampilan, kebersihan, kecantikan dan menjaga kesihatan dirinya, dan istiqomah dalam beribadah...

Ketika suami tidak dirumah, dirinya tidak akan pernah memperbolehkan lelaki yang tidak dikenal atau lelaki yang tidak disukai oleh suami masuk ke dalam rumahnya.

Menjaga harta suami adalah bagian dari tugas isteri yang solehah, mengatur harta rumah tangga dengan tidak berlebihan dan tidak juga kikir adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, menyediakan makanan yang sesuai dengan selera suami, memperhatikan seluruh keperluan suami, adalah bentuk pengabdian yang selalu bernilai pahala.

Sebesar apapun, ia sentiasa bersyukur atas apa yang diberikan oleh suaminya, tidak banyak mengeluh, sabar dalam menerima keterbatasan suami, tidak meminta sesuatu yang lebih dari kemampuan suaminya, menghormati orang tua suami, memperlakukan mereka dengan sikap terbaik, pemaaf dan pengertian, adalah sifat yang senantiasa ditunjukkannya.

Jika ia bekerja, maka ia akan menjaga dirinya dalam pergaulan, menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, yang dapat mengantarkan dirinya dalam kemaksiatan.

Memberikan sedekah kepada keluarga dari hasil pekerjaannya. Wanita solehah adalah ikutan dari anak-anaknya, mereka akan memberikan teladan yang terbaik bagi anak-anaknya, sabar dalam mendidik anak, tidak mengeluarkan perkataan yang tidak patut untuk di contohi oleh anak-anak...

Setidaknya, inilah ciri-ciri akhlaq wanita solehah..tentunya, kesolehan itu tidak datang sendirinya, ia memerlukan proses...

Dan wanita solehah tentunya akan memilih lelaki pilihan Allah, yang bersama-sama mengantarkan dirinya melalui proses tersebut.. agar mencapai keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat..

Wallahu’alam.


~ E . N . D ~

Panahan Seorang Wanita

by Abu Hanifah on Saturday, January 1, 2011 at 2:56pm


Kami sulit menahan pandangan mata kami ketika melihat kalian,



apalagi jika kalian diamanahkan Allah kecantikan dan tubuh badan yang ideal,



kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian,



kerana itu lebarkanlah serta longgarkanlah pakaian kalian dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan tudung atau jilbab yang membentang dan labuh.



Kami sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian,



apalagi jika kalian diamanahkan oleh Allah



suara yang merdu dengan irama yang mendayu kerana itu



tegaskanlah suara kalian tatkala berbicara di berhadapan dengan kami dan berbicaralah seperlunya sahaja.



Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian, ketika kalian dapat menjadi tempat untuk dicurahkan segala isi hati kami,



waktu luang kami kadangkala akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, kerana itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian



Kami tahu kami insan lemah bila harus berhadapan dengan kalian,



kekerasan hati kami dengan mudah bisa luluh hanya dengan senyum kalian,



hati kami akan bergetar ketika mendengar dan melihat kalian menangis.



Sungguh ALLAH telah memberikan amanah terindah kepada kalian,



maka jagalah amanah itu jangan sampai ALLAH murka dan memberikan keputusan-Nya.



Maha Besar dan Maha Suci Allah yang tahu akan kelemahan hati kami ini,



hanya dengan ikatan yang suci dan yang diredhai-NYA,



kalian akan menjadi halal bagi kami.



"Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini..YA Rabb,



ampunilah daku.



Untuk setiap pandangan yang tak terjaga,



untuk iman yang tak dipelihara,



lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab,



Ya Rabb, Engkaulah mengawasi kami setiap detik,



kerana kasih sayangMu ya Allah kepada kami,



Engkau perintahkanlah malaikat silih berganti menemani kami siang dan malam agar iman kami dapat dijaga...



~ E . N . D ~

Sunday, December 26, 2010

"Aku Telah di Khitbah"

by Hidayatus Solehah on Friday, October 22, 2010 at 5:09pm


Assalamualaikum...



Pasti pembaca sekelian (khususnya sabahat2 yang mengenali diri ini) terkejut dengan berita ini. Mohon maaf kerana tidak memberitahu dan menjemput kalian. TETAPI, minta teruskan pembacaannya..terima kasih.



***************************************



Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.



Aku hanya seorang gadis. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.



Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang hamba yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.



Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat ku memakai cincin di kedua tangan di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.



Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.



"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"



Aku menjawab tenang..



"Warna putih, bersih..."



"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."



"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."



Ibu angguk perlahan.


Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah. Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.



Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.



"Kak, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"



Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.



"Insya Allah, dia tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."



Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.



"Jangan lupa jemput saya di hari menikahnya, jangan lupa!"



Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan dia yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.



"Bila awak menikah?"



Aku tiada jawapan khusus.



"Insya Allah, tiba waktunya nanti awak akan tahu..."



Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.



"Jemput saya tau!"



Anis tersenyum megah.



"Kalau awak tak datang pun saya tak berkecil hati, doakan saya banyak-banyak!"



Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.



"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."



Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...



"Usah berlebihan ya..."



Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.



"Jom makan!"



Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.



"Sila-sila, saya puasa."



Sahabiah juga semakin galak mengusik.



"Wah, diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"



"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."



Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.



.......................................



"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."



"Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."



"Ya Allah, tenangnya..."



"Moga Allah memberkatinya...."


Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.



Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.



Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.



Dalam sedar tidak sedar...



Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.



"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."



Akhirnya, Anis bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...



"Adani bertunang dengan siapa, mak cik?"



Ibu tenang menjawab...



"Dengan kematian wahai anakku.Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, dia hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."



"Allahuakbar..."



Terduduk Anis mendengar, air matanya tak mampu ditahan.



"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."



Ibu angguk, tersenyum lembut...



"Ini nak, bukunya."



Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.



"Ya Allah, patut la dia selalu menangis.. Anis tak tahu mak cik."



"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu dia mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan..."



Anis masih kaku. Tiada suara yang terlontar.



************************************



"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta."



** Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.**



~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~

Wednesday, December 22, 2010

Wanita: Akal senipis rambutnya

by in a relationship with on Monday, November 8, 2010 at 4:12pm



Jangankan lelaki biasa,nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, fikiran dan perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walau ada segalanya. Apa yang tiada dalam syurga?Namun adam tetap rindukan hawa.Dijadikan wanita daripada tulang rusuk yang bengkok. Untuk diluruskan oleh lelaki.

Tetapi seandainya lelaki itu sendiri tidak lurus,Mana mungkin kayu yang bengkok menghasilkan bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan jalan yang ditunjuk oleh Allah, Kerana mereka diciptakan sebegitu rupa oleh Allah. Didiklah mereka dengan panduan darinya. Jangan cuba menjinakkan mereka dengan harta, kerana nantinya mereka semakin liar.



Janganlah hiburkan mereka dengan kecantikan, kerana nantinya mereka akan semakin derita. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal. Di situlah punca kekuatan dunia.Akal senipis rambutnya, tebalkanlah ia dengan ilmu. Hati serapuh kaca, kuatkanlah ia dengan iman...Perasaan selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak.




Suburkanlah ia kerana dari situlah nantinya...Mereka akan lihat nilaian dan keadilan Rab...Bisikkan ke telinga mereka bahawa kelembutan bukan suatu kelemahan..Ia bukan diskriminasi Allah...sebaliknya di situlah kasih dan sayang Allah...Wanita yang lupa hakikat kejadiannya...Pasti tidak akan terhibur, dan tidak akan menghiburkan...



Tanpa iman, ilmu dan akhlak..mereka tidak akan lurus...Bahkan akan semakin membengkok...Itulah hakikatnya andai wanita tidak kenal Rabbnya...Bila wanita menjadi derhaka...pasti dunia lelaki akan menjadi huru hara....



Lelaki pula janganlah mengharapkan ketaatan semata-mata...Tapi binalah kepimpinan...Pastikan sebelum wanita menuju ilahi, pimpinlah diri kepadanya...Jinakkan diri kepada allah...Nescaya akan jinaklah segala-galanya di bawah pimpinanmu...



Janganlah mengharapkan isteri semulia Fatimah Az-Zahra'Seandainya dirimu tidak sehebat saidina Ali karamallahuwajhah



~ E.N.D ~

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP